Hope Anchors the Soul


IMG_0816

Tiap kali ke perpustakaan, selalu ada orang ini.
Mudah untuk dikenali, bisa ku pastikan demikian!
Bukan karena gayanya yang nyentrik, tapi karena perawakannya sedikit beda dibandingkan kebanyakan “sewa batu” di perpus.
Tua, itu yg pertama kali terlintas ketika melihat Bapak ini.
Professor, ini yg kedua terlintas, atau mahasiswa PhD yg ketiga, atau mahasiswa Post-Doc yg keempat, dan “atau-atau” lainnya yang lebih mencerminkan perawakannya.

“Biasa itu bos orangtua main-main ke perpus!”, mungkin beberapa orang berkata demikian.
Setuju bos! Jadi hal biasa mungkin bagi sebagian orang melihat, katakanlah lansia berkunjung rutin ke perpus.
Apalagi di bumi Eropa.
Biasa itu!
Tapi hal yang menjadi luar biasa adalah ketika lansia mengikuti ajang perebutan piala bergilir “penghuni terakhir” perpus.
Bagaimana mungkin dikatakan “biasa” seorang tua rutin check-out dari perpus jam 2 pagi?
Bagaimana mungkin dikatakan “biasa” seorang tua rutin harus mengayuh sepeda tengah malam di tengah dinginnya negeri londo ini?

Pejuang!
Jujur, kalau dia jadi Oppung-ku (Kakek, red), segitu bangganya aku jadi cucu punya Oppung pejuang kek gini.

Pejuang bukan sembarang pejuang, tapi di umurnya yg tak lagi muda, orang ini sedang berjuang untuk menginspirasi banyak orang.
Kemarin malam, di perpus, setelah diterjang stress akut di tengah-tengah dunia per-thesis-an, ku sempatkan melipir ke kedai kopi perpus kampus.
Duduk, ku nikmati secangkir kopi dengan tatapan kosong, tiba-tiba di kejauhan terdengar suara:
“Horas bos! Aha na masa?” (Halo bos! Ada apa gerangan?)
Gitu la kira-kira kalau diterjemahkan sapaan si Bapak ini saat aku sedang duduk di pojokan.

“Horas bos!” ini juga yg jadi awal mula percakapan hingga pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa orang ini sedang berjuang untuk menginspirasi banyak orang.
Ternyata, dia bukanlah seorang Professor, bukan juga mahasiswa PhD, atau mahasiswa Post-Doc.
Dia seorang penulis!
Iya benar, penulis disertasi, tapi kala itu, karena dia sudah menyelesaikan gelar doktoralnya di bidang Teknik Sipil.
Pria berkebangsaan India ini adalah seorang penulis buku berjudul “ASHA”.
Asha (bahasa Sansekerta), artinya hope atau harapan.
Sedikit tentang buku ini.
Buku yg dikemas dalam bentuk novel ini berisi tentang harapan, yang menjadi energi bagi manusia untuk terus bergerak maju.
Menariknya, buku ini juga memuat cerita tentang bagaimana harapan itu tetap akan ada setelah akhir kehidupan seseorang di dunia ini.

Sudah setahun dia berjuang menulis buku ini, tak hanya itu, buku ini juga menjadi bukti perjuangannya untuk menginspirasi banyak orang.
Ku tanyakan ke dia: “What motivates you to write this book?”
“I wanna be a blessing for others, even when I die”.
Begitu la klaimnya, tak sabar untuk membaca buku ini, dan jika kalian juga tertarik untuk membacanya, mari kita tunggu bersama, karena buku ini akan dirilis minggu depan di Amazon. Tak tau pastinya tanggal berapa, tapi dia bilang minggu depan.
Kita tunggu aja.

Tunggu dulu, setelah ku pikir ulang, jago juga strategi promosi Bapak ini, boleh la.
Tapi tak apalah, memang dia cukup menginspirasi, bahkan hanya mendengar dia adalah former researcher di NASA semakin membuatku kagum.
Mauliate Pung sudah sangat menginspirasi, salut untuk perjuanganmu!
Mauliate (terima kasih, red)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s